Pages: [1]
Print
Author Topic: Mengapa di Lampung, Indonesia semua kopi robusta?  (Read 728 times)
andreas.ginting
Newbie


Points: 0
Posts: 4


View Profile Email
« on: 16 November 2010, 21:31:46 WIB »


 Beberapa waktu yang lalu saya dan seorang teman mengadakan perjalan yang sangat jauh ke daerah penghasil kopi di lampung. Daerah ini namanya LIWA. Adapun rencana untuk mengadakan perjalanan kesana adalah mencari kopi luwak yang sangat terkenal. Perjalanan ini termasuk ingin menemukan sumber kopi arabica pesanan teman dari jakarta. Minta dikirimi kopi biji mentah arabica grade 1. Selama perjalanan disana kita mampir untuk mencari informasi tentang kopi arabica apakah bisa dibeli dalam bentuk greenbeans. Namun sangat disayangkan sangat sulit mencari kopi arabica disana. Sembari terus bingung dan cari informasi akhirnya dapatlah informasi dari petani mengapa di lampung tidak ada kopi arabica.
 Pada suatu waktu pemerintah daerah mengadakan kampanye untuk menanam kopi arabica di liwa. Seraya waktu berlalu bibit diberikan oleh PEMDA setempat. Setelah buahnya berproduksi ternyata hasilnya sama sekali tidak dipasarkan atau bahkan ditampung. Sehigga harganya sama sekali tidak bersaing. Bersamaan dengan itu muncul permintaan akan kopi robusta oleh pasar. Menurut salah sorang petani yang kami temui disana, kopi arabica kurang berbuah lebat. Menurut mereka kopi Arabica milik mereka hanya bisa menghasilkan buah 200-300 gram perpohon persekali panen. Dibandingkan dengan kopi robusta yang bisa menghasilkan 2-3 kg perpohon perpanen. Dengan harga jual yang sama baik robusta maupun arabica. Secara prinsip ekonomi tentu saja tidak ada petani yang akan bersedia menanam kopi arabica. Sedangkan mereka ditinggalkan dengan harga pasar bebas yang tidak menguntungkan. Lalu apa yang dilakukan? Pada umumnya petani melakukan penebangan habis terhadap kopi arabica dan menggantikannya dengan kopi robusta.
 Yang menjadi pertanyaan...apakah memang secara alami kopi arabica berbuah lebih sedikit dari kopi robusta? Atau memang kopi arabica tidak cocok dengan iklim dan ketinggian di LIWA? Atau bibit arabica yang diberikan oleh pemerintah daerah bukan bibit unggul karena budgetnya sudah dipotong? Tidak ada penjelasan lebih jauh yang diperoleh oleh petani. Mereka dibiarkan sendiri memutuskan dengan tuntutan ekonomi yang semakin berat. Tidak ada pilihan selain melakukan penebangan pohon arabica dan menggantikannya dengan kopi robusta. Jadilah Liwa dan sekitarnya menjadi penenam kopi robusta.
 Namun dari hasil penelusuran kami masih ada beberapa petani yang membiarkan tanaman kopi arabica mereka. Khususnya karena kopi luwak yang ada disana menggunakan kopi arabica. Kami pernah diperlihatkan biji kopi ini. Sangat ranum berwarna merah dan bagus. Petani disana memberikan julukan biji kopi anggur. Namun sayang kopi arabica menjadi langka di liwa karena kurangnya informasi dan penjelasan dari kalangan terkait khususnya pemerintah daerah. Beginilah nasib para petani kita. Pihak lemah yang selalu dirugikan. Ironisnya disepanjang perjalanan terpampang, papan rekalame besar dari pemda disana dengan slogan "mari jadikan produksi pertanian kita kualitas dunia".  Sangat ironis memang. Tapi inilah nasib para petani kopi disana.
 Akhir dari perjalanan ini kami memabawa kopi luwak arabica yang sudah dipesan teman. Sesampainya dirumah, langsung kami sangrai diseduh dengan creama yang tebal. Terobati sudah kekesalan akan perjalanan melihat nasib para petani kopi ini yang berjuang sendiri untuk menaman, memasarkan kopi mereka.
 
Logged
arief.said
Newbie


Points: 0
Posts: 17



View Profile WWW
« Reply #1 on: 20 November 2010, 02:42:25 WIB »

Terima kasih sekali atas cerita nya.

Secara jenis, setau saya, memang betul arabica menghasilkan lebih sedikit dari robusta. Dan sangat rawan terhadap hama dan penyakit. Ditambah lagi, untuk mendapatkan kualitas rasa yang tinggi, arabika  harus ditanam di ketinggian.

Mengenai jenis bibit, saya pernah mengikuti seminar pemaparan hasil eksperimen rasa kopi terhadap demand Australia. Survey ini dilakukan oleh pak Bustanul Arifin dari Lampung, kalo tidak salah. Tolong koreksi kalau salah. Cara survey ini dilakukan adalah melalui blind cupping terhadap roaster2 di Melbourne pada khususnya. Dan hasilnya adalah S-27 adalah bibit arabika yang mereka sukai. Dan ini adalah bibit yang sangat umum ditanam di Indonesia untuk arabika. Ditambah lagi, proses yang mereka rasakan paling enak adalah melalui giling basah. Lagi-lagi ini adalah proses yang paling umum dilakukan di Indonesia.

Memang disayangkan jika petani disudutkan kepada situasi pasar yang tidak menguntungkan. Di seluruh dunia sekarang sedang ribut mengenai akan adanya kekurang biji kopi dalam 10 tahun ke depan. Bisa dilihat coffee commodity price sedang melunjak. Ditambah lagi, pasar dunia sekarang meminta kopi arabica berkualitas tinggi. Tidak hanya berdasarkan size dan defect layaknya pasar kopi 10 tahun yang lalu.

Namun tidak banyak yang bisa melihat, untuk mengamankan supply arabica ini, petani kopi harus diberi insentif untuk menanam kopi berkualitas. Semua dikarenakan tamaknya orang perantara atau kurangnya edukasi dan akses pasar yang memadai untuk para petani.

Indonesia dalam posisi yang sangat luar biasa beruntung. Secara geografi, berada di katulistiwa adalah posisi sangat strategis untuk penanaman kopi. Secara topografi, banyak pegunungan di pulau macam sulawesi dan sumatra. Secara bibit, umumnya arabika yang ditanam di Indonesia sesuai dengan pasar luar negri. Secara kultur memproses, umumnya petani Indonesia menggunakan proses yang menghasilkan kopi yang clean.

Sayang sekali, kualitas kopi yang dihasilkan masih jauh dibanding amerika latin bahkan etiopia dan rwanda. Mengapa? Karena petani tidak ada insentif untuk melakukan lebih baik. Jika ada yang lebih mudah, mengapa saya harus susah?

Andai saja para petani mendapatkan akses kepada pasar yang menguntungkan mereka.

Semua ini adalah proses.
« Last Edit: 20 November 2010, 03:12:21 WIB by arief.said » Logged

belajarkopi.wordpress.com
baraputra
Newbie


Points: 0
Posts: 44



View Profile WWW
« Reply #2 on: 20 November 2010, 08:47:23 WIB »

Saya dengar ada beberapa investor eropa/amerika yang sudah mengadakan kontrak dengan kelompok tertentu petani kopi indonesia untuk menanam dan memroses sesuai standarisasi yang mereka tentukan ya?

Namun hasilnya tidak bisa dinikmati langsung dipasar indonesia, karena akan diboyong dulu ke pihak pemodal di sangrai dan diberi merek - Jadi kita harus membeli dengan harga yang jauh lebih mahal?

Selain pemodal dari luar negeri apakah ada juga dari dalam negeri?
Logged
DennysCoffeeBdg
Coffee Lover
*

Points: 0
Posts: 125

melmanoflove
View Profile WWW Email
« Reply #3 on: 16 April 2012, 15:48:55 WIB »

Saya dengar ada beberapa investor eropa/amerika yang sudah mengadakan kontrak dengan kelompok tertentu petani kopi indonesia untuk menanam dan memroses sesuai standarisasi yang mereka tentukan ya?

Namun hasilnya tidak bisa dinikmati langsung dipasar indonesia, karena akan diboyong dulu ke pihak pemodal di sangrai dan diberi merek - Jadi kita harus membeli dengan harga yang jauh lebih mahal?

Selain pemodal dari luar negeri apakah ada juga dari dalam negeri?

itu sama aja mereka membeli perkebunan kopi dong?hmmm tega amat ngebeli kebun.kasian petaninya dong ah.untuk di lampung emang jenis arabika jarang karena datarannya terlalu rendah
Logged
Syamsul
Newbie


Points: 0
Posts: 6


View Profile Email
« Reply #4 on: 29 April 2012, 21:26:34 WIB »

Mudah2n lewat sini gw dpt pengetahuan yg banyak untuk menyejahterakan petani kopi arabika kalosi ditempat saya
Logged
Pages: [1]
Print
Jump to: