Beberapa waktu yang lalu saya dan seorang teman mengadakan perjalan yang sangat jauh ke daerah penghasil kopi di lampung. Daerah ini namanya LIWA. Adapun rencana untuk mengadakan perjalanan kesana adalah mencari kopi luwak yang sangat terkenal. Perjalanan ini termasuk ingin menemukan sumber kopi arabica pesanan teman dari jakarta. Minta dikirimi kopi biji mentah arabica grade 1. Selama perjalanan disana kita mampir untuk mencari informasi tentang kopi arabica apakah bisa dibeli dalam bentuk greenbeans. Namun sangat disayangkan sangat sulit mencari kopi arabica disana. Sembari terus bingung dan cari informasi akhirnya dapatlah informasi dari petani mengapa di lampung tidak ada kopi arabica.
Pada suatu waktu pemerintah daerah mengadakan kampanye untuk menanam kopi arabica di liwa. Seraya waktu berlalu bibit diberikan oleh PEMDA setempat. Setelah buahnya berproduksi ternyata hasilnya sama sekali tidak dipasarkan atau bahkan ditampung. Sehigga harganya sama sekali tidak bersaing. Bersamaan dengan itu muncul permintaan akan kopi robusta oleh pasar. Menurut salah sorang petani yang kami temui disana, kopi arabica kurang berbuah lebat. Menurut mereka kopi Arabica milik mereka hanya bisa menghasilkan buah 200-300 gram perpohon persekali panen. Dibandingkan dengan kopi robusta yang bisa menghasilkan 2-3 kg perpohon perpanen. Dengan harga jual yang sama baik robusta maupun arabica. Secara prinsip ekonomi tentu saja tidak ada petani yang akan bersedia menanam kopi arabica. Sedangkan mereka ditinggalkan dengan harga pasar bebas yang tidak menguntungkan. Lalu apa yang dilakukan? Pada umumnya petani melakukan penebangan habis terhadap kopi arabica dan menggantikannya dengan kopi robusta.
Yang menjadi pertanyaan...apakah memang secara alami kopi arabica berbuah lebih sedikit dari kopi robusta? Atau memang kopi arabica tidak cocok dengan iklim dan ketinggian di LIWA? Atau bibit arabica yang diberikan oleh pemerintah daerah bukan bibit unggul karena budgetnya sudah dipotong? Tidak ada penjelasan lebih jauh yang diperoleh oleh petani. Mereka dibiarkan sendiri memutuskan dengan tuntutan ekonomi yang semakin berat. Tidak ada pilihan selain melakukan penebangan pohon arabica dan menggantikannya dengan kopi robusta. Jadilah Liwa dan sekitarnya menjadi penenam kopi robusta.
Namun dari hasil penelusuran kami masih ada beberapa petani yang membiarkan tanaman kopi arabica mereka. Khususnya karena kopi luwak yang ada disana menggunakan kopi arabica. Kami pernah diperlihatkan biji kopi ini. Sangat ranum berwarna merah dan bagus. Petani disana memberikan julukan biji kopi anggur. Namun sayang kopi arabica menjadi langka di liwa karena kurangnya informasi dan penjelasan dari kalangan terkait khususnya pemerintah daerah. Beginilah nasib para petani kita. Pihak lemah yang selalu dirugikan. Ironisnya disepanjang perjalanan terpampang, papan rekalame besar dari pemda disana dengan slogan "mari jadikan produksi pertanian kita kualitas dunia". Sangat ironis memang. Tapi inilah nasib para petani kopi disana.
Akhir dari perjalanan ini kami memabawa kopi luwak arabica yang sudah dipesan teman. Sesampainya dirumah, langsung kami sangrai diseduh dengan creama yang tebal. Terobati sudah kekesalan akan perjalanan melihat nasib para petani kopi ini yang berjuang sendiri untuk menaman, memasarkan kopi mereka.